Pengaruh Variasi Waktu Fiksasi dengan Pemanasan Oven Suhu 65 terhadap Kualitas Sediaan Histologi
DOI:
https://doi.org/10.54082/jupin.1890Kata Kunci:
Fiksasi, Histologi, Pemanasan OvenAbstrak
Fiksasi merupakan tahap penting pada proses pembuatan preparat histologis yang berfungsi mempertahankan struktur jaringan agar tetap menyerupai kondisi aslinya. Waktu fiksasi standar yang banyak diterapkan yaitu selama 24 jam. Metode konvensional seperti ini biasanya memerlukan waktu yang lama, sehingga pemanasan dikembangkan sebagai alternatif untuk mempercepat penetrasi larutan fiksatif ke jaringan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan kualitas sediaan histologi yang difiksasi dengan pemanasan oven suhu 65°C variasi waktu 3 menit, 5 menit, dan 10 menit. Penelitian telah dilaksanakan sejak bulan Mei-Juli 2025 melalui desain penelitian true experimental posttest only control. Penelitian ini dilakukan menggunakan empat kelompok yang mencakup dari kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakuan. Kelompok perlakuan pada penelitian ini yaitu jaringan yang difiksasi menggunakan oven suhu 65°C dengan variasi waktu 3 menit (P1), 5 menit (P2), dan 10 menit (P3). Kelompok kontrol yang dipilih oleh peneliti ini yakni yang jaringan yang difiksasi secara konvensional selama 24 jam (K1). Data pada penelitian ini diperoleh melalui pengamatan mikroskopis terhadap 24 preparat jaringan hepar yang dilakukan oleh dua orang penilai, setiap sediaan dilakukan penilaian dan pemberian skor berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Data tersebut kemudian dilakukan analisis statistik yang diawali dengan uji Cohen’s Kappa untuk mengukur tingkat kesepakatan antara dua penilai, dilanjutkan dengan uji Kruskal-Wallis dan uji Mann-Whitney dalam mengidentifikasi perbedaan signifikan antar kelompok. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa fiksasi jaringan dengan oven suhu 65°C selama 10 menit menghasilkan kualitas terbaik di antara kelompok perlakuan, meskipun masih berbeda signifikan jika dibandingkan metode konvensional. Oleh karena itu, oven suhu 65°C dengan waktu pemanasan 3,5 dan 10 belum layak dijadikan alternatif untuk mempercepat proses fiksasi sediaan histologi.
Referensi
Alimi, H. S., Sari, R. V. S., Apriliyani, T., Nuriliani, A., Retnoaji, B., Saragih, H., & Rohmah, Z. (2023). Fixative Solution for Macromolecules in Histological Preparations. Berkala Ilmiah Biologi, 14(3), 41–49. https://doi.org/10.22146/bib.v14i3.6531
Ariyadi, T. S. (2017). Kualitas Sediaan Jaringan Kulit Metode Microwave dan Konvensional Histoprocessing HE. Jurnal Labora Medika, 7–11.
Bhuvanamha Devi, B., Subhashree, A. R., Parameaswari, P. J., & Parijatham, B. O. (2013). Domestic microwave versus conventional tissue processing: A quantitative and qualitative analysis. Journal of Clinical and Diagnostic Research, 7(5), 835–839. https://doi.org/10.7860/JCDR/2013/5630.2953
Burhannudin, & Herbyananda, A. D. (2024). Use of a Hotplate at 80 ° C for 3 minutes to help Fixation of Histological Preparations. Biomedika, 16(2), 59–64. https://doi.org/10.23917/biomedika.v16i2.3271
Burhanudin, Warida, & Puspita, I. (2023). Alternatif Pemanasan Proses Fiksasi Sediaan Histologi Prodi Diploma III Teknologi Laboratorium Medis , Poltekkes Kemenkes Jakarta III An Alternative To Fixating Histology Specimens By Using Hotplate At 60 ° C For 10 Minutes. Bahana Kesehatan Masyarakat, 7(2), 89–94.
Khristian, E., & Inderiati, D. (2017). Bahan ajar Teknologi Laboratorium Medis (TLM): Sitohistoteknologi. Kementerian Kesehatan RI.
Landis, J. R., & Koch, G. G. (1977). The measurement of observer agreement for categorical data. biometrics, 159-174.
Mau, F., Supargiyono, S., & Herdiana Murhandarwati, E. E. (2015). Koefesien Kappa sebagai Indeks Kesepakatan Hasil Diognosis Mikroskopis Malaria di Kabupaten Belu Nusa Tenggara Timur. Buletin Penelitian Kesehatan, 43(2), 117–124.
Muladi, M., Rahmawati, Y., Wirawan, I. M., Hidayat, S., Dwi Septian, F. R., & Isrofil, F. (2021). Pengembangan oven dengan kontrol elektronik untuk peningkatan kapasitas dan kualitas produksi kue bolu. Jurnal Inovasi Hasil Pengabdian Masyarakat (JIPEMAS), 4(2), 177. https://doi.org/10.33474/jipemas.v4i2.9166
Musyarifah, Z., & Agus, S. (2018). Proses Fiksasi pada Pemeriksaan Histopatologik. Jurnal Kesehatan Andalas, 7(3), 443. https://doi.org/10.25077/jka.v7.i3.p443-453.2018
Muthiawati, S., Wiryanti, W., Durachim, A., & Mulia, Y. S. (2023). Optimasi Waktu Dan Suhu Fiksasi Spesimen Terhadap Kualitas Preparat Jaringan. Jurnal Kesehatan Siliwangi, 4(1), 479–484. https://doi.org/10.34011/jks.v4i1.1508
Nurfitandari, A. (2024). Pengaruh Pemanasan Pada Proses Fiksasi Jaringan Histologi Ginjal Mencit (Mus Musculus) Terhadap Kualitas Sediaan Dengan Pewarnaan Hematoxylin Eosin (He). Skripsi. Lampung: Program Studi Teknologi Laboratorium Medis Poltekkes Kemenkes TanjungKarang.
Pratiwi, N. Y., Durachim, A., Mahmud, D., & Gusnandjar, A. (2019). Perbandingan Fiksasi Menggunakan Gula Pasir Tebu Dan Neutral Buffer Formalin Terhadap Keutuhan Sel. Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung, 11(2), 190–197. https://doi.org/10.34011/juriskesbdg.v11i2.742
Tripathi, M., Bansal, R., Gupta, M., & Bharat, V. (2013). Comparison of routine fixation of tissues with rapid tissue fixation. Journal of Clinical and Diagnostic Research, 7(12), 2768–2773. https://doi.org/10.7860/JCDR/2013/6233.3754
Yulianti, sang A. P., & Wiranatha, I. gede. (2024). Perbandingan Fiksasi Metode Perendaman Dan Penyemprotan Alkohol 96 % Terhadap Morfologi Sel Preparat Pap Smear Yang Diwarnai Papanicolaou. Seminar Nasional Sains dan Teknologi (SENASTEK), 29–30.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Nurul Aisyah, Yeni Rahmawati, Yuyun Nailufar

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.



